Tampilkan postingan dengan label Tongseng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tongseng. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Januari 2011

Sate Pojok Pekayon

Hidupkan Lagi Legenda Kelezatan Yang Pernah Hilang
Sate Pojok Rawamangun Warung Pak Aca

Sate Pojok dengan bumbu rahasianya
Pekayon Bekasi - webrizal.com
Sudahlah jadi kebiasaan orang, bila mengenal kelezatan satu sajian di tempat makan tertentu, maka dia tak akan berpindah ke lain tempat. Sekalipun kemudian tempat makan itu hilang (dari peredaran... entah kemana), maka memori yang terekam dalam syaraf ujung lidah mereka akan selalu menanti kehadirannya kembali entah kapan dan dimana.

Jadi ongkrongankomunitas Hrley Davidson
Kalau sudah begitu maka liputan kali ini mencoba mencari kelezatan legendaris yang hilang dan muncul kembali. Hmmm bukan tugas yang mudah tapi juga tidak terlalu sulit. Buktinya, saat saya menyusuri jalan Pekayon hendak menuju kawasan Kemang Pratama, tak sengaja mata saya menangkap satu tempat makan yang tulisannya terbaca biasa saja pada awalnya.

mudah dicarinya kok

Sebenarnya sih nggak juga, karena sudah beberapa kali saya melewati jalan Pekayon antara Kemang Pratama dan Perum Galaxy mata saya sering tak sengaja menangkap nama Sate Pojok Pekayon dengan tulisan putih terang berlatar belakang merah indigo yang enak dilihat.

Eits... tadi apa namanya? Oh iya... SATE POJOK PEKAYON. Nah nama yang unik untuk kita ngulik, bukan? Ya... kenapa Sate Pojok? Apa karena lokasinya di pojok atau... satenya cuma ada di pojokan tusuk satenya aja... tengahnya nggak ada sate? Hehehehe.... ngarang aja!

Sate Pojok yang legendaris itu
Sate Pojok Pekayon ternyata adalah satu merk yang hendak dihidupkan kembali dari sebuah nama resto sederhana "sate pojok" yang terkenal di bilangan terminal Rawamangun. Sate Pojok dekat terminal  bus Rawamangun itu adalah milik pegawai Depdikbud (pada masa itu), Pak Aca, yang kini sudah almarhum.

Saat itu di tahun 70-an hingga 80-an, Sate Pak Aca yang ada di Sate Pojok begitu terkenal, bahkan mungkin termasuk salah satu tempat makan pertama yang paling rame sebelum lintasan kuliner di jalur menuju terminal Rawamangun ada di awal tahun 1990-an.

Feny - the manager
Keluarga dari keturunan langsung dari pak Aca, yakni generasi kedua dan ketiganya, ingin menaikkan kembali merk sate pojok yang pernah terkenal itu dan membawanya ke Pekayon. "Maka nama Sate Pojok Pekayon pun kami pilih karena kami ingin mengunggulkan menu sate kambing serta sate marangi sebagai unggulan," ungkap Feny sang menantu yang juga pengelola dan penanggungjawab Sate Pojok Pekayon kepada kulinerkuliner.com

"Untuk resep bumbunya tetap mama yang bikin, karena mama ikut "mbah kakung" (pak Aca) dari kecil dan selalu membantu mbah hingga masa remaja. Jadi beliau hapal betul resep bumbu rahasia Sate Pojok," papar Feny, wanita yang bersuamikan Aji ini menambahkan tentang menu unggulan warisan pak Aca yang masih dipertahankan dalam sajian di Sate Pojok Pekayon.

Kelezatan Legendaris Resep Turun Temurun?
Kalau saya sendiri sih gak mau ambil pusing. Mau itu resep warisan nenek moyang kek, atau warisan leluhur kek, yang penting bagi saya... cicipin, rasakan dan kunyah serta telan. Kalau enak ya rekomendasi... kasih skor.. satu jempol, dua jempol apa empat jempol atau malah bisa jadi cuma kasih satu kelingking saja kalau memang perlu.

Pada kunjungan pertama kulinerkuliner.com kali ini, sajian sop iga ala Sate Pojok dan Sate Kambing ala Sate Pojok sebagian menu pembuka. Hmmmm, harus diingat, gigi lemah dan ompong saya nggak mau berkompromi dengan daging kambing atau sapi yang alot dan keras. Apalagi seratnya susah dikunyah... wah udah nggak zaman deh! Pokoknya kalau gigi ompong saya yang rapuh ini bisa kompromi dan lidah mau menari, maka Sate Pojok memang pantas untuk direkomendasi.

Sialnya..... ternyata Sate Pojok lembut banget di gigi saya... cuma sekali kunyah, maka tekstur daging kambing yang dibakar setengah matang ini dengan mulusnya bergulingan di antara gigi lunak saya. Hmm... lezatnya memang pantas dapat 3 jempol.... (tahu kan kenapa? karena satu jempol lagi kan lagi megang tusuk satenya! Hehehehe...!).

Demikian juga sop iganya... ini yang lebih sensasional.... saking lembutnya itu potongan daging iga yang masih menempel di tulang rusuknya, gampang banget dipotong sama sendok. Bukan pisau daging loh! Dan juga nggak perlu pake garpu. Saking lembut dan lunaknya, daging iga bisa dipotong dan saya suap dengan satu tangan. Wah... entu daging sapi begitu enjusi (juicy)... ditambah aroma dan rasa rempah yang nendang ke seluruh rongga mulut saya. Busyet... ini mah sajian resto hotel berbintang... tapi anehnya kok harganya warung pinggir jalan?

Tempat kumpulnya banyak komunitas
Halah... nanti gue disangka promosiin ini tempat makan lagi. Nggak juga seh... kan nggak ada nomor teleponnya...Jadi biar para pembaca yang nyari sendiri tempatnya dan cari tahu sendiri nomor telepon kontaknya, kalau penasaran mau pesan kirim sate kambing nan lunak atau sate marangi yang (sorry guys,,,, gue belum ngerasain jadi nggak bisa komentar).

Ok deh... liputan kali ini tentang kelezatan sate kambing khas pojok yang empuk dan juicy akan kita bahas pada liputan selanjutnya.Yang jelas kalau para pembaca kepingin berkunjung ke Sate Pojok Pekayon, maka perhatikan saja jam tayangnya, yakni mulai buka dari jam 10.00 pagi hingga jam 11.00 malam. Tapi bila ada pengunjung (seperti yang sudah-sudah seh), ada komunitas motor gede, Harley Davidson Bekasi yang kebanyakan tinggal di Kemang Pratama dan Galaxy, yang mesen tempat di Sate Pojok Pekayon sebagai meeting point.

Biasanya komunitas moge ini booking tempat sampai jam 2.00 dini hari saat malam mingguan. Wah benar-benar banana... eh maksudnya, benar-benar memberikan kepuasan layanan kepada pelanggan. Pantas bila Sate Pojok dijadikan meeting point rutin (per minggu atau bulannya?). Anda tertarik juga menjadikan Sate Pojok sebagai tempat ketemuan atau rendezvous? Hubungi saja (021) 9346.1965

Sidik Rizal - kulinerkuliner.com

Minggu, 26 September 2010

Pawon Solo Jl. KH. Agus Salim Bekasi

Kenikmatan Mie Jowo khas Solo yang Tak Tertandingi

Bekasi Timur - kulinerkuliner.com
Menjelajahi jalan jalan di kota Bekasi mulai dari kota tuanya yang dikenal dengan nama Proyek, saya mencoba mencari sebuah monumen bersejarah kota Bekasi, yakni tugu patriot di bilangan jalan raya KH. Agus Salim.


Setelah melewati rel kereta api dari pasar Proyek Bekasi, saya tak berlama-lama melihat tugu Patriot yang bangunannya seperti terabaikan. Rasa miris melihat tugu kecil setinggi hampir 3 meter itu yang puncaknya berupa pecahan granat, amunisi dan senjata api serta bekas peralatan tempur jaman perang dulu, membuat saya enggan berlama-lama, apalagi banyak orang sekitar justru memandang aneh dengan tingkah saya mengamati tugu tersebut.

Ya mendingan cari makanan enak, unik dan tempatnya ramai, seperti biasalah untuk bahan tulisan kelana kuliner kali ini. Motor CB tua tahun 1972 saya geber perlahan menuju arah timur dari jalan KH. Agus Salim. Belum melewati SMP Negeri 3 Bekasi, saya melihat sebuah warung makan baru dengan tulisan PAWON SOLO. Wah boleh juga neh... kayaknya nyaman dan akrab di mata Jawa saya. Hehehehe, kali aja ada yang pas buat lidah Melayu Jawa saya ini.

Saya datang pun disambut dengan keramahan khas Solo, kebetulan sekali langsung oleh pengelola warung Pawon Solo, Mas Sutoyo Baran. Sambutannya yang bersahabat membuat saya mau lebih jauh menelisik lebih jauh tentang warung makan yang saya duga bukan sekadar warungan biasa.

Menu sajian yang paling Fast Moving (luwaku buwanget) apalagi saat bulan lalu adalah Bakmie Djowo. Loh kok bisa? Saya jadi penasaran, akhirnya saya minta dibikinkan seporsi bakmi godhog, yang akhirnya juga dibungkusin seh. Abis hari ini saya sudah beberapa porsi makan mie, mulai dari mie ayam hingga nasi uduk. Dan yang paling penting setelah saya bawa pulang, bakmi godhog yang dibungkusnya sudah tercampur antara kuah dan mienya ternyata masih terasa lezat. Saya dan istri pun merasakan nikmatnya rasa ebi udang kering di antara potongan-potongan ayam suwirnya yang banyak. Belum lagi bakminya yang berukuran lebar walau tak selebar kwetiaw tapi beda dengan mie keriting biasa. Rasa gurihnya itu...hmmmm good marsogood!

Kelezatan dan gurihnya bakmie godhog ini mengingatkan saya pada saat saya pernah berkunjung ke kota Solo beberapa tahun silam. Di kota yang mencerminkan kelembutan khas asli Jawa dan pusatnya dunia wisata kuliner di seluruh pulau Jawa ini saya pernah mencicipi aneka masakan populer seperti Sate Kambing khas Solo, Bakso khas Solo, Ayam Bakar, Tengkleng, Tongseng dan lainnya. Jadi dari pengalaman saya di sana, saya tahu persis seperti apa seh makanan asli khas selera dan rasa asli setiap masakan berlabel Solo. Kecuali nasi kucing, karena waktu remaja dulu ke Solo, nasi kucing angkringan Solo belum sepopuler sekarang.

Kembali ke Warung makan lesehan Pawon Solo yang memiliki setidaknya 6 buah meja lesehan. Masing-masing meja ini bisa ditempati oleh 4 orang atau bisa juga lebih kalau mau saling berhimpitan. Ya justru di situlah seni lesehan enaknya. Duduk bersama sambil bercengkerama dan menikmati sajian bakmi Jowo baik yang godhogan maupun yang gorengan. Keduanya sama nikmatnya. Tapi mungkin selera saya adalah bakmi godhognya seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, mempunyai kenikmatan gurihnya udang ebi dan ayam suwir yang khas Solo buanget. Kalau bisa saya kasih nilai, yah dapat point tujuh setengah lah!

Pawon Solo yang buka dari jam 10.00 pagi hingga jam 11.00 malam (tapi terkadang bisa sampai Shubuh kok!?) ini memang direncanakan disetting untuk menyajikan aneka makanan populer khas Solo. Lihat saja pilihan menunya seperti Tengkleng, Tongseng dan Sate Kambing, Gule Kambing dan juga Nasi Goreng Kambing. Huwaduh semuanya makanan para penganten baru. Hehehehehe.... pantesan kebanyakan makanan ini adalah makanan para bangsawan Keraton Solo yang akhirnya dipopulerkan oleh rakyatnya dan justru diminati oleh orang-orang di luar kota Solo.

Tapi yang jadi fenomena tersendiri adalah mengapa Bakmie Djowonya bisa menjadi yang paling laku di bulan puasa lalu?

"Mungkin karena orang-orang biasanya sudah sahur dengan nasi, kemudian mereka jalan-jalan keliling dan melihat warung kami buka, mereka mau mencicipi Bakmi Godhog atau Bakmi Gorengnya." ungkap mas Sutoyo, lelaki kelahiran Solo, 12 Oktober 1982.

"Bisa jadi," tambah mas Toyo (demikian panggilan akrabnya), "...mereka mencari yang berbeda untuk sahur. Masakan panas dan berkuah seperti bakmi Jawa memberikan sensasi berbeda dan segar, bukan?" imbuhnya beretorik. Benar juga seh!

Lah kalau melihat gaya pelayanannya kok mirip dengan warung angkringan nasi kucing ya? "Gak salah lagi Mas!" jawab mas Toyo. Ternyata pemilik Pawon Solo adalah keluarga besar pemilik franchise Angkringan Ki Asem. Ya Angkringan NAsi Kucing Ki Asem yang fenomenal di kota Bekasi itu.

Bedanya cuma di jenis kelas sajian makanannya. Bila angkringan dikenal masyarakat luas Kota Bekasi dengan makanan murah meriah namun bisa wedangan sepuasnya hingga melendung perut kita bahkan bisa sampai pagi hari. Sedangkan Pawon Solo menyajikan menu masakan setingkat lebih mahal daripada angkringan. Di angkringan setiap menu makanan cuma dibandrol seribu perak atau seribu lima ratus perak. Mungkin yang agak mahal hanya minuman hangatnya seperti Wedang Jahe Susu. Namun karena makannya sambil ngemil dan ngobrol ngalor ngidul tak terasa jumlah porsinya pun bisa menembus angka fantastis. Tak heran buat mereka yang hobo ngemil di malam hari dengan membawa uang selembar limapuluh ribuan bisa makan sepuasanya sambil minum wedang panas.

Namun bila Anda berkunjung ke Pawon Solo, selembar limapuluh ribuan bisa menikmati aneka makanan pamungkas buat persiapan tidur atau "bertempur" bersama pasangan tercinta Anda. Memang kayaknya Pawon Solo ini khusus disajikan untuk orang dewasa. Ya iyalah memang ada anak-anak yang kelayapan malam hingga pagi hari untuk cari sekadar makanan?

Sesuai dengan namanya, Pawon Solo memang dikhususkan buat mereka yang ingin menikmati makan malam atau dini hari bersama pasangan dan ingin merasakan indahnya dunia. Pilihan menu mulai dari Sate Kambing, Tongseng Kambing, Tengkleng hingga Gule Kambing adalah aphrosidiak yang dipercaya sangat efektif menambah kehangatan malam dan kemesraan. Demikian pula bakmi goreng dan bakmi godhognya. Hmmmm jangan ditanya deh... setelah merasakan kelezatan gurihnya mie godhog beraroma ayam dan ebi kering itu, saya jadi keringatan dan jadi kepengen maen bola sama istri.... hehehehe! 

Anda tertarik untuk mencari makanan malam dan kebetulan ada di wilayah Bekasi Timur, segeralah kunjungi Pawon Solo di Jalan KH. Agus Salim tepat di depan SMP Negeri 3 Kota Bekasi. Atau bisa juga booking tempat untuk reservasi di (021) 9346.1965 atau 08.131.131.8752 dan juga melayani pesan antar di kawasan Bekasi Timur dan sekitarnya dengan pemesanan minimal 3 porsi.

Saran: Ada menu unik khas asli Solo yang jarang ditemui, sepertinya bisa dipesan di tempat ini, yakni Kikil Kambing Kecap (bukan Kikil Sapi loh, tapi Kikil Kambing). Menu ini sepertinya memang jarang disajikan. Tapi bila Anda meminta langsung dengan sang koki, mas Toyo akan menyediakannya. Anda tertarik?

Sidik Rizal - bukankelanakuliner.com

DAFTAR MENU
PAWON SOLO

* Bakmie Djowo Godhog
   - Rp 10.000,-
* Bakmie Djowo Goreng
   - Rp 10.000,-
* Tengkleng Kambing
   - Rp 17.500,-
* Sate Kambing
   - Rp 17.500,-
* Tongseng Kambing
   - Rp 15.000,-
* Gule Kambing
   - Rp 15.000,-
* Nasi Goreng Kambing
   - Rp 12.500,-
* Nasi Putih
   - Rp 2.500,-

Melayani Pesanan untuk Aqiqah atau Pesta (asak dan Antar)
* 1 ekor kambing (berat kambing bersih tanpa kepala dan kaki : 15 - 16 kg)
   - Rp. 1.500.000,-
   (+/- Sate 450 tusuk dan 1 panci Gule)
   (+/- Sate 450 tusuk dan 1 panci Tengkleng)

* Bakmie Djowo Ayam Kampung. (pesanan antar ke rumah buat arisan atau lainnya minimal 50 porsi)



APA HUBUNGANNYA PAWON SOLO DENGAN ANGKRINGAN KI ASEM

Yang bikin saya kaget adalah... Pawon Solo ini ternyata ada hubungannya dengan Nasi Kucing Angkringan Ki Asem. Yakni pemilik Pawon Solo, bapak Sri Widodo adalah keluarga besar dari pemilik Franchise Angkringan Ki Asem (Asem adalah singkatan dari nama Agus Semedi), yakni bapak Sartono yang juga adik kandung dari Sri Widodo. Oh puantesan... konsep idenya hampir mirip walau tak sama.

Berikut saya kutip tulisan tentang Angkringan Nasi Kucing Ki Asem yang saya dapati dari internet.

This business started from Solo & Jogja youngest people community, When the economic crisis influence many country and people in the world, Angkringan ki Asem ( ASEM short name from Agus Semedi) come as traditional restaurant, with cheap concept, sometimes some people Java tradition in meeting and eating come to place at Angkringan which get from word " NANGKRING/ NONGKRONG/ KONGKOW "

I make free concept restaurant, comfortable, safety park, then give guarantee the theme still past situation, After launching Franchise system, Angkringan Ki Asem will be big player restaurant at Jabodetabek

Herewith our outlet:
1. Perum Tytyan kencana - Bekasi
2. Perum Wisma Asri - Bekasi
3. Perumnas 3 - Bekasi
4. Perumnas 2 - Bekasi
5. Jl. Pekayon 1 ( Before Naga Supermart) - Bekasi
6. Jl Rawa Lumbu - Narogong - Bekasi
7. Jl. Agus salim - Bekasi
8. Jl. Pekayon 2 ( After ATB) - Bekasi
9. Jl. Pondok Timur Raya - Bekasi
10.Jl. Bintara- Bekasi ( Soft Opening)

Our Tagline:
"WE GUARANTEE THE TASTE MAKNYUS, TOP MARKOTOP, GOOD MARSOGOOD, SIP MARKUSIP "

Management angkringan:
Tytyan Kencana Blok E4 No.22 Margamulya Bekasi Utara West Java Indonesia 17142
phone/ fax 62218877940 mob: 6287877180222 email: sartono72@ gmail.com facebook: angkringankiasem

Rabu, 13 Januari 2010

Warung Sate Tongseng WAS WAT Kedoya yang Nyasar ke Rawakuning Pulogebang

Tongseng segala jenis Daging, Sedap, Nikmat dan Murah




Cakung, kelanakuliner.com
Jika Anda mau menikmati Tongseng yang bukan daging kambing, tapi justru daging lainnya maka cuma satu tempatnya, yakni Sate Kodoya yang kini nyasar alamat di Jl. Rawakuning, Pulogebang Cakung. Dengan lokasinya yang tepat di pinggir jalan Rawakuning  Raya, masuk dari Kelapa Satu, Cakung Jakarta Timur ini, Anda dengan mudah menemukannya, karena spanduk flexi yang terpajang di pinggir jalan itu cukup mencolok tulisan Warung Sate WAS WAT, awas jangan salah baca jadi was-was.


Bukan hanya tulisan yang bisa salah baca saja, menu sajiannya pun lumayan aneh, atau lebih tepatnya disebut unik. Entah mengapa sate dan tongseng yang ditawarkan mempunyai daging beragam selain kambing. Misalnya saja, ada Tongseng Ayam, Tongseng Sapi, Tongseng Belut, Tongseng Bebek dan Tongseng Enthog. Gimana? Unik bukan? Tapi masalah rasa, ternyata tongseng khas Betawi ini gak kalah dengan tongseng asli dari Solo. Setidaknya itulah yang saya rasakan saat menyantap menu sajiannya yang lumayan suasana dan tempatnya. Tapi untuk rasanya, wah saya nggak bisa bilang banyak kecuali Mantabbsss!


Mau mencoba mengunjungi dan menikmati Tongseng Sapi atau Tongseng Ayamnya yang lezat dan harga terjangkau? Meluncur saja dari Kelapa Satu lalu tembus ke jalan raya Rawakuning, masuk ke dalam kira0kira 400 meter pasti Anda bisa menemukannya di sisi sebelah kiri jalan raya. Untuk reservasi, silakan hubungi pak Ahmad (021) 3234.2635.

Sidik Rizal - dobeldobel.com

Senin, 12 Oktober 2009

RM Khas Jawa Tengah: Tongseng Kambing Kurma


Mulai dari Tongseng Kambing Kurma, Tengkleng Kambing, Gudeg Jogja hingga Nasi Liwet, semuanya Memang Beda



Bekasi, kelanakuliner.com
Inovasi rasa dan bumbu dalam dunia kuliner tak selamanya baru sama sekali. Salah satu kelana kuliner yang pernah temukan adalah masakan olahan dari daging kambing. Di samping masjid raya Al-Barokah Alun-Alun Kota Bekasi, ada Rumah Makan yang menyajikan menu makanan yang sedikit berbeda dengan sekitarnya, tapi mungkin tidaklah unik buat budaya orang Timur Tengah. Menu unik tersebut adalah Tongseng Kambing Kurma.

Bagaimana rasanya masakan sarat kolesterol ini ditambahi kurma dalam bentuk sirup itu? Menurut sang pemilik rumah makan, Hj. Yusuf yang bernama asli Hj. Ummi Salamah, buah kurma sejatinya dikonsumsi biasanya oleh orang Arab (Timur Tengah) saat bersamaan mereka makan kambing. Berdasarkan pengalaman dan budaya orang timur tengah, mereka termasuk penggemar makanan kaya kolesterol seperti Kambing Panggang, Sop Kambing dan segala olahan masakan dari kambing, namun jarang sekali mereka terkena penyakit tekanan darah tinggi.
Setelah diteliti ternyata kebiasaan mereka adalah menkonsumsi kurma dan madu secara bersamaan, termasuk herbal-herbal lain.

Karena itulah, atas saran seorang teman, saya mencoba untuk membuat Tongseng Kambing Kurma, dengan sesendok sari kurma di setiap porsi tongseng yang saya sajikan buat pelanggan akan menetralisir segala racun dan sumber penyakit yang datangnya ada pada daging kambing. Jadi kini orang-orang yang takut makan kambing, tak perlu kuatir lagi. Mereka kini bisa bebas makan serta menikmati tongseng kambing kami dan silakan periksa sendiri efeknya pada kesehatan tubuh.

Hj. Yusuf, wanita kelahiran Solo, 27 Oktober 1946 yang memiliki tanah lebih dari 1800 meter per segi ini, memang sudah diajarkan dunia usaha semenjak dirinya masih kecil oleh ibundanya. Perempuan yang bersuamikan H. Yusuf Zubaidi ini, membuka warung makan khas Jawa Tengah ini setelah ia menyewakan halaman depan rumahnya untuk warung serupa. Setelah selesai masa kontraknya, maka dia berinisiatif untuk membuka usaha sendiri, di samping mengisi kesibukan di masa pensiunnya semenjak suaminya meninggal, di samping itu sangat menikmati usaha kuliner dimana saat mengawasi karyawannya langsung memasak sajian khususnya itu.

Bila pelanggannya yang menggemari masakan Gudegnya, dapat dipastikan mereka kebanyakan adalah pelanggan yang jauh-jauh datang dari wilayah perumahan di Bekasi Utara, Harapan Indah, Bekasi Selatan, ungkap Hj. Yusuf berpromosi. Ibunda dari 3 orang putra putri Ir. Ahmad Syaifuddin, Dra. Atik Solihati, SH. dan Andi Syahrul Adi ini memfokuskan diri pada makanan khas Jawa Tengah, seperti Solo, Jogja atau daerah lainnya.

Untuk Tengkleng sajian khas RM Jawa Tengah, memang mempunyai rasa agak beda lain dari biasanya. Kalau Anda ingin merasakan Tengkleng khas Solo yang dicampur Kurma atau Madu, bisa Anda pesan. Namun biasanya yang disajikan adalah Tongseng, karena Tongseng lebih berasa manis.

Tertarik mencoba Tongseng Kambing Kurmanya RM Jawa Tengah milik ibu Hj. Yusuf? Anda bisa menghubungi pesanan di no. 081389.510.263 atau 0897.1441.49 atau bisa langsung berkunjung ke Alun-Alun setelah Masjid Raya Al Barkah Kota Bekasi, bila Anda datang dari arah kantor Polres Metro kota Bekasi atau RSUD.

Menu yang disajikan adalah:
1. Soto Kwali Daging Ayam... Rp.7.000,-
2. Soto Campur Daging Ayam... Rp. 7.000,-
3. Tengkleng Kambing... Rp. 13.000,-
4. Tongseng Kambing Kurma... Rp. 17.000,-
5. Tongseng Kambing Solo... Rp. 15.000,-
6. Nasi Gudeg Komplit... Rp. 15.000,-
7. Paket Nasi Veteran A (Nasi Liwet, Ayam selembaran) Rp. 10.000,-
8. Paket Nasi Veteran B (Nasi Liwet, Paha/Dada Ayam) Rp. 12.000,-

- Nasi putih..... Rp. 2.000,-
- Tahu Bacem..... Rp. 1.000,-
- Tempe....... Rp. 1.000,-

Minuman yang disajikan adalah aneka softdrink, es jeruk, es teh manis, jeruk hangat dll.

Sidik Rizal

Sabtu, 08 Agustus 2009

Artomoro: Sate Gule Kambing di Grand Mall Bekasi


Sate Gule Kambing & Tongseng
Masuk Bekasi Grand Mall

Bekasi, kelanakuliner.com
Adalah seorang PNS wanita, beranak 1, Umi Kulsyum yang tertarik membuka usaha kuliner dengan nama Cafe Artomoro. Penyebabnya adalah karena kakak sudah lebih dahulu membuka usaha kuliner dan mengajaknya, maka wanitaPNS ini pun tertarik dan mulai mencari jenis serta usaha kuliner apa yang cocok dengan dirinya yang kebetulan juga punya hobi memasak ini.

Pengalamannya sebagai seorang staf Dinas Ketenagakerjaan di pemda kabupaten Bekasi membuat dia berani untuk membuka usaha kuliner. Tapi berbeda dengan tempatnya bekerja, dimana dia lebih sering menangani SDM buat pabrik atau perkantoran, dimana ada peraturan daerah yang agak berbeda dengan aturan buat usaha kuliner. Biar begitu tetap saja ia mengikuti aturan yang berlaku, bahkan selain mendapat UMR seperti yang telah ditentukan, karyawannya juga terjamin masalah makan mereka.

Pada intinya adalah usaha kafe Artomoro yang berlokasi di Food Court Bekasi Grand Mall lantai 4 ini sengaja dimulai untuk antisipasi bila nanti ia berhenti jadi pegawai negeri. Keinginan berwirausaha memang sudah sejak lama ingin Umi jalankan, baru saat kakak perempuannya, Kristin yang lebih dahulu membuka Pondok Khas Jawa Tengah, di Bekasi Grand Mall dan BCP.

Umi sendiri pun telah membuka outlet Kafe Artomoro di Giant Pondok Bambu, dan baru kemudian satu outlet lagi di Bekasi Grand Mall berdekatan dengan kafe milik kakaknya. Masalah makana yang disajikan, pada mulanya memang ada kendala, tapi akhirnya dia memilih masakan daging kambing, seperti Sate dan Gule yang kebetulan memang belum ada. Sayangnya untuk minuman ia belum mendapatkan izin dari pihak pemilik mall, karena hanya dibolehkan satu jenis minuman atau makanan yang bisa dijajakan di food court lantai 4 tersebut.

Pilihan olahan menu makanan yang khas Semarang memang sangat banyak mulai dari kota Semarang yang terkenal dengan Wingko Babat dan Lumpia ini. Umi memilih Sate dan Gule Kambing, dengan pertimbangan karena kemudahan pengolahan dan belum ada yang memilih sajian ini di food court ini. Dengan kepiawaiannya memilih daging kambing yang sedikitnya 10 kg setiap harinya dia sediakan. Terkadang bila tak habis, dia memmbiarkan karyawannya untuk menghabiskan makanan yang belum laku terjual untuk dihabiskan atau dibawa pulang, daripada sia-sia dan mubazir. Namun untungnya hal ini jarang terjadi, karena umumnya bahan makanan yang disediakan habis laku terjual, ungkap Umi sambil memanggil anaknya yang berusia 7 tahun dan sedang asyik bermain untuk mendekat.

Lalu apa bedanya masakan Semarang dan Solo untuk menu yang memang sering dijumpai di kedua daerah ini? Menurut Umi, bedanya adlah di sayuran dan rempah pada tongsengnya. Tongseng Semarang jauh lebih kaya sayuran dan bumbu, jadi bukan hanya sekadar bumbu kemiri dan gula merah seperti Tongseng Solo. Karena kekayan rempah dan sayuran inilah yang akan terasa beda bagi penikmat kuliner masakan Jawa Tengah.

Bagaimana dengan sajian Sate dan Gule Kambingnya, Anda lihat saja dan rasakan saja sendiri dan bisa reservasi terlebih dahulu ke telp. (021) 9346.1965

Sidik Kelana Rizal - dobeldobel.com

Senin, 13 Juli 2009

Warung Sederhana Sate dan Tongseng Pak Budi

HARGANYA KELAS BAWAH PELANGGANNYA KELAS ATAS


Jakarta, dobeldobel.com - Kelanakuliner.com
Mencari makanan populer khas Solo seperti Sate Kambing dan Tongseng kini di Jakarta tidaklah sulit. Hampir bisa dipastikan setiap jalan raya besar pasti ada tempat panganan dari bahan daging kambing atau ayam ini bisa kita dapatkan. Tapi permasalahannya adalah bisakah Anda mendapatkan yang mempunyai rasa kelas atas dengan harga kelas bawah?

Ada satu tempat yang memang menawarkan makanan favorit penggemar daging kambing bakar kecil-kecil atau yang dikenal sate dan tongseng ini di bilangan Jakarta Timur maupun Bekasi. Nama tempat tersebut adalah SATE & TONGSENG PAK BUDI.

Jangan salah, Pak Budi bisa jadi akan melayani Anda tanpa ragu bila kebetulan Anda sedang beruntung. Istimewanya adalah bila Anda terbiasa memesan tongseng, maka sama halnya Anda memesan sate. Berapapun banyak porsi tongseng yang Anda pesan, maka jumlah satenya tetap sama hingga kapanpun. Itulah prinsip dasar pak Budi (yang ternyata bernama asli Senen Riyanto), bahwa kejujuran adalah segalanya bagi dirinya melayani pelanggan.

Karena adalah hal yang sangat memalukan, bila ada pelanggan yang memesan Tongseng, kemudian biasanya dia mendapat 5 tusuk daging sate kambing ataupun ayam sesuai dengan selera, tanpa diketahui oleh sang pelanggan jumlah satenya dikurangi 1 jadi 4 tusuk saja. Mungkin sekali dua tidak ketahuan, tapi "efek" tidak berkahnya itulah yang selalu dihindari Senen Riyanto.

Bapak dari anak yang bernama Budi ini yang kemudian akrab dipanggil rekan-rekannya dengan sebutan pak Budi (Bapaknya Budi) memang sejak tahun 1985 telah berjuang keras dan ulet berdagang kaki lima masakan tongseng maupun sate kambing. Dan dari hasil dari kerja keras dan ketekunannya selama lebih dari 24 tahun maka tak perlu heran bila kini pelanggannya selain kebanyakan orang biasa banyak juga yang dari kalangan pejabat tinggi. Taruhlah seperti Sri Mulyani, sang menteri kabinetnya SBY, termasuk SBY sendiri yang juga termasuk PSK (Weittt jangan salah sangka om!... PSK adalah singkatan Penggemar Sate Kiloan... hehehehe unik ya?).

Dulu pun ketika jamannya Presiden Soeharto masih berkuasa, sate dan tongseng pak Budilah yang dipesan jauh-jauh dari Solo untuk disantap pak Harto dan tamu kehormatannya. Terutama Thengkleng buatan pak Budi, yang dulunya mangkal kaki lima di Jl. Penataran.

Kisah perjalannya yang susah sempat diceritakan langsung kepada kelanakuliner.com, bagaimana ia selalu dipandang hina oleh lingkungannya karena berdagang sate, bahkan sempat dia tidak dikasih hutangan rokok oleh tetangganya karena status pekerjaannya. Tapi Senen Riyanto pantang menyerah, dengan semangat dan keinginannya untuk memperbaiki hidup apalagi karena ia menikah muda dan didorong oleh kelahiran anaknya yang pertama dan ia beri nama Budi dari istrinya yang bernama Kanti Rahayu, ia mulai melanjutkan berdagang Sate dan Tongseng dengan bumbu khas Solo.

Bila dulu saat susah dia susah sekali mendapatkan dukungan dan bantuan baik pihak bank maupun siapa saja, maka kini semenjak warung Sate dan Tongsengnya ramai dikunjungi pelanggannya, maka sponsor pabrik Kecap Bango mengajaknya bekerja sama, demikian pula pihak perbankan banyak yang menyodorkan bantuan pinjaman untuk membuka cabang berikutnya.

Saat diwawancarai saja, Senen sempat dihubungi oleh seorang rekannya yang menawarkan tanah untuk dibelinya, namun dengan ramah dia mengatakan bahwa dia sedang mempersiapkan pernikahan anaknya, Budi yang baru saja selesai diwisuda dari Kampus Trisakti dengan meraih gelar Sarjana Akuntansi.

Ada prinsipnya Pak Budi selain kejururan sebagai andalan utama, yakni tentang kualitas makanan dan rasa. Kalau mau berdagang makanan seperti saya dan disukai oleh pelanggan adalah, Berani Enak dan Berani Murah. Maka bisa dipastikan yang belanja akan lebih banyak yang datang. Hal ini bisa dibuktikan banyaknya kunjungan kendaraan roda dua (motor) dan pejalan kaki yang menggunakan kendaraan umum dibandingkan yang bermobil (walaupun terkadang pelanggan yang berkendaraan roda empat membludak).

Kiat saya mudah saja, lebih baik saya memasang harga yang terjangkau oleh mereka yang berkendaraan motor, namun pelayanan dan menu makanan kami bisa juga dinikmati kalangan bermobil. Daripada saya memasang harga tinggi, dan hanya kalangan bermobil saja yang mampu, tapi pengunjungnya sedikit. Percuma dan bisa banyak kehilangan pelanggan baru.

Satu lagi rahasia bumbunya, yakni selalu dia menggunakan kecap Bango, ujarnya berpromosi. Karena rumah makannya yang kini ada 5 tempat ini mungkin hanya yang di Pusat di Jl. Pahlawan Revolusi, depan kantor Pos saja yang didukung penuh bilboard Neon Box Kecap Bango. Dan jangan kaget, selama sebulan sedikitnya pak Budi menggunakan 300 galon Kecap Bango. Pantas saja, Kecap bango tak mau kehilangan pelanggan istimewa seperti Pak Budi.

Itulah sebabnya, Kecap Bango mengajak sang pedagang ulet Sate & Tongseng ini dalam cara Jajanan Bango di Senayan setiap eventnya diselenggarakan. Dan hebatnya lagi, dalam acara Jajanan khas Bango yang dibuka pukul 9.00 pagi, Lapak Tongseng dan Satenya Pak Budi pasti antri dipenuhi pelanggan jauh sebelum jam pembukaan. Pasalnya, mungkin hanya jajanan Sate dan Tongseng Pak Budi yang mematok harga sangat murah tapi para penggemar sate maupun tongseng bisa puas. Perlu dicatat dan ditiru oleh kita bersama, bahwa harga rendah atau BERANI MURAH namun kualitas dan rasa tinggi atau BERANI ENAK, itu saja rahasia sukses kalau mau jadi pengusaha rumah makan yang bakalan ramai pengunjungnya, demikian jelas lelaki berusia 45 ini mengakhiri pertemuan dengan saya. Tak lupa ia memberi saya dua bungkus sate dan tongseng yang saya bawa pulang untuk saya nikmati beserta keluarga.
Sidik Rizal.

Sate & Tongseng Pak BUDI
menerima pesanan Resepsi dan Pesta serta catering perhotelan
Rumah Makan
Pusat:
- Jl. Pahlawan Revolusi, depan Kantor Pos
HP. : 0813.0111.851 / 0813.294.000.46
Telp. (021) 866.02157
Cabang:
- Jl. Pahlawan Revolusi, Apotik Kimia Farma - Telp. 0812.107.97432
- RC Veteran - Bintaroc - Telp. (021) 737.0709
- Jl. HM. Joyo Martono - Bekasi Timur - Telp (021) 883.56668
- Jl. Penataran, Jakarta Pusat - Telp (021) 886.02157
-------------------------------------------------------------------------------------------

Tulisan Terkait dengan Warung Sederhana Sate & Tongseng Pak Budi

Berpetualang di Festival Bangau
sumber: Agustiyanto Blogs

Tanggal 23 Mei yang lalu di kawasan Parkir barat Gelora Bung Karno terdapat festival kuliner yang diselenggarakan oleh kecap bangau. Berbagai Hidangan tersedia disana, dari sate, tongseng, martabak, soto, angkringan, nasi timbel, nasi uduk, nasi goreng dan bahkan es goyang yang turut meramaikan acara tersebut.

Dengan seting tempat berjejer-jejer pengunjung diijinkan memilih hidangan yang memiliki harga yang sama seperti di tempat aslinya, selain itu tersedia meja makan yang diseting untuk bersama-sama.

Pada kesempatan tersebut kami mencoba merasakan Warung Sate & Tongseng sederhana Pak Budi, memiliki rasa enak dan gurih. Daging sangat empuk dan rasa bumbu meresap tajam sehingga pantas kalau harus mengantri panjang untuk menikmati hidangan tersebut.

Jajan Enak di Festival Jajanan Bango
Fotografer -Odilia Winneke

Tanggal 23 Mei-24 Mei lalu, Festival Jajanan Bango untuk kelima kalinya kembali digelar di Jakarta bertempat di Plaza Selatan Gelora Bung Karno. Lebih dari 50 penjual makanan tradisional unggulan dari berbagai daerah di Indonesia memeriahkan festibal yang bertema 'Festival Kelezatan Sepenuh Hati' ini. Apa saja suguhan dari festival ini?

Tongseng disajikan panas dengan nasi putih akan membuat kita kenyang dan puas. Kedepan tentu acara akan lebih seru sehingga sayang apabila di lewatkan begitu saja.

Warung Tongseng & Sate Sederhana Pak Budi termasuk yang banyak dijejali pembeli. Tongseng diracik lansung di depan pembeli. Demikian juga sate kambingnya yang empuk.

Selasa, 16 Juni 2009

TENGKLENG SOLO BALAPAN YANG PERTAMA DI BEKASI

KULINER KHAS KERATON SOLO
YANG PAS DI KANTONG RAKYAT


Bekasi, kelanakuliner.com (dobeldobel.com)
Pernah nggak terbayang dalam benak anda bahwa bangsa Indonesia dulu pernah dijajah oleh bangsa asing karena hal sepele, yakni bumbu dapur? Istilah kampungnya The Spices atau bahasa Inggrisnya "Rempah-rempah". Kalau sekarang bangsa kita sedang dalam proses penjajahan karena alasan harta kekayaan minyak dan tambangnya, dulu (sesuai kemampuan teknologi dan kebutuhan dasar zaman) maka rempah-rempah lah yang jadi alasan bangsa-bangsa Eropa mau menguasai nusantara. Halah... lupakan saja masalah penjajahan, kini kita ingat saja kekayaan budaya dan sumber alam negeri kita dan bagaimana kita bisa menerima berkah dan karunia itu dan menjaganya buat anak cucu kita (buset... ternyata dalem juga yah?)

Sisa-sisa kebesaran nenek moyang kita, yakni berupa kekayaan rempah-rempah adalah satu kebanggaan yang bisa jadi akan hilang ditelan masa. Contoh kekayaan yang akan dan bisa ditelan zaman adalah kuliner nusantara kita dan keanekaragaman rempah-rempah yang sangat terkenal di dunia semenjak masa nenek moyang kita. Sebagai contoh, adalah kelana kuliner di daerah Solo, yang memang sangat terkenal sebagai gudangnya makanan khas Indonesia.

Anda tentu sudah tahu betapa Solo dikenal nusantara sebagai tempatnya makanan-makanan nikmat pembangkit selera, mulai dari Tongseng Solo, Rawon Iga Solo, Bakso Solo, Sop Buntut Solo, Sate Kambing Solo sampai yang paling mutakhir, Nasi Kucing Solo. Tapi mungkin saya termasuk yang baru pertama kali mendengar makanan khas Solo lainnya, yakni Tengkleng.

Apa seh Tengkleng itu? Adalah pengusaha RM Solo Balapan, Tatagna Budi, menjelaskan kepada dobeldobel.com tentang makanan khas dan unik dari Solo ini. "Tengkleng sesuai dengan pakemnya biasanya terbuat dari tulang-tulang kambing, mulai dari kepala, iga, buntut, punggung, sampai dengan tulang kaki. Dan dimasak seperti layaknya sop, namun dengan bumbu-bumbu rempah yang jumlahnya nyaris 28 jenis."

Mendengar penjelasan itu saja bikin saya geleng-geleng kepala. "Wah bener juga bangsa kita ini kaya akan bumbu rempah dan jago makan.... hehehehe!" Lalu saya pun menanyakan apa keunikan bumbu-bumbu masakan khas Solo, Tengkleng ini dibandingkan dengan soto buntut, soto kaki kambing atau sop kambing daerah lainnya. Suami dari Kristiari ini mengungkapkan, "Ada rempah-rempah yang tak bisa diperoleh di daerah lainnya seperti Jakarta atau Bekasi. Salah satunya misalnya kayu Temoyi!"

Dan karena sang pemilik restoran yang sangat doyan makan ini tidak tahu apa bumbu rahasia dan nama rempahnya ia memanggil istrinya, yang juga bertugas sebagai koki utama restoran Solo Balapan ini, Kistiari yang diklaim suaminya sebagai istri yang jago masak menjelaskan, "Kayu temoyi adalah sejenis rempah berbentuk kayu yang oleh orang awam dianggap seperti kayu biasa. Tapi ia mempunyai aroma khas dan mampu menghilangkan bau amisnya daging dan tulang kambing. Tentunya juga harus ada bumbu-bumbu yang lain sehingga menghasilkan aroma dan rasa yang khas Tengkleng."

Tatagna juga menambahkan, bahwa banyak orang yang membuat Tengkleng serupa tapi rasanya jauh berbeda dengan Tengkleng buatannya, bahkan dengan bercanda ia bilang, "Mungkin yang mereka buat itu ya menu Tengkleng-tengklengan... Dan itu bukan kata saya saja tapi juga beberapa pelanggan yang mencobanya di luar kemudian menceritakannya kepada saya setelah mereka bandingkan dengan Tengkleng di RM Solo Balapan ini."

Jangan heran kalau pengunjung RM Solo Balapan ini adalah memang orang-orang yang sudah tahu apa itu Tengkleng, dan Tatagna, yang kerap dipanggil mas Tatag ini, mengungkapkan bahwa kebanyakan para pengunjungnya adalah orang-orang jauh yang datangnya bukan dari Bekasi saja, bahkan sampai orang Tangerang di ujung Jawa Barat pernah datang dan begitu lewat rumah makan Solo Balapan miliknya mengkhususkan diri untuk mencicipi Tengkleng.

Ada kisah menarik tentang Tengkleng yang kini jadi makanan rakyat ini. Dulunya memang Tengkleng adalah makanan sop khas para bangsawan Keraton Solo, hingga pernah satu ketika, di tahun 1980-an saat itu Mas Tatag masih SMA. Di masa itu Presiden Soeharto masih berkuasa, pernah menjamu tamu-tamu penting dan pejabat negara untuk menikmati Tengkleng di Anyer. Dan secara khusus, Tengkleng dimasak di Solo kemudian diterbangkan dengan pesawat khusus untuk bisa disajikan panas-panas buat para tamu-tamunya pak Harto. Huaduh dari sini saja saya sudah bisa ambil kesimpulan.

Ya, bahwa Tengkleng memang ternyata adalah makanan para bangsawan dan pejabat tinggi yang hanya bisa dibuat dengan bumbu rempah-rempah yang adanya di Solo saja. Jadi jelas berbeda dan tak akan sama masalah rasanya dibandingkan dengan sop kambing, soto kaki ataupun masakan sop tulang dari daerah lain. Campuran rasanya yang khas antara, gurih, asam, sedikit manis, bau amis yang hilang dan tenggelam dalam wanginya rempah serta butiran-butiran cabe rawit pastinya akan membuat anda berkeringat dan berdecak nikmat karena begitu lezat dan empuknya daging kambing yang berasal dari tulang-tulang itu.

Ada istilah makan yang aneh dari menu Tengkleng ini adalah "menggeragoti" daging-daging yang ada di tulang-tulang kambing ini. Di Solo sendiri dobeldobel.com mendapati bahwa makanan khas Solo ini bisa jadi rebutan di dagangan kaki lima daerah wisata Solo. Tulang-tulangnya pun mulai dari tulang tengkorak kambing, iga, tulang punggung, tulang buntut, tulang kaki. Huffff, pastinya anda akan ketagihan. Karena begitu saya menikmati bersama anak saya, Lulu Ammantsura, kami sampai berkeringat dan mengeluarkan nafas berat karena saking pedas dan lezatnya masakan ini. Jangan kuatir kalo daging-daging di sela-sela tulang ini keras atau alot, karena sebelum disajikan, mas Tatag ceritakan bahwa potongan-potongan tulang daging ini dipresto dulu, sehingga sudah bisa diketahui betapa empuknya saat dikunyahnya.

Walaupun Tengkleng dikenal sebagai makanan untuk kalangan atas, tapi masalah harga per porsinya yang bisa dinikmati untuk dua orang ini bisa didapat dengan harga relatif tidak mahal, hanya Rp. 18.000,- Dan anda tidak saja bisa menikmati Tengkleng Solo ini, ada makanan khas lainnya seperti, Tongseng, Rawon Iga, Sate Kambing dan Sup Buntut. Dan luarbiasanya di depan restoran ini ada penganan ringan Nasi Kucing Solo, walaupun bukan miliknya, namun menambah khazanah keanekaragaman makanan khas dari Solo. Satu strategi marketing yang cukup efektif.

Bila anda mau dan timbul selera untuk menikmati makanan khas Solo, Tengkleng yang tak akan anda jumpai di Jabodetabek, kecuali di Bekasi ini, anda bisa:
reservasi di no. 021.9664.3471 atau 0811136395.

Atau datang langsung ke alamat ini, RM Solo Balapan Jl. Bintara Raya No. 1 K, Bekasi Barat.

Sidik Kelana Rizal